Rabu, 03 Juni 2009

Wimax dan 3G














Persaingan antara pengusung 3G dan WiMAX semakin seru. Masing-masing saling menunjukkan berbagai keunggulan, baik dari sisi teknologi, layanan maupun nilai ekonomis penerapannya. Beberapa negara telah menerapkan layanan 3G, terutama di Eropa yang jaringan 3G-nya boleh dikata sangat luas.

Namun, penggelaran yang menelan investasi ratusan miliar dolar itu, dianggap masih belum berhasil menggaet jumlah pelanggan yang signifikan. Padahal, selain investasi penggelaran jaringan, untuk mendapatkan lisensi 3G-nya pun mereka sudah harus mengeluarkan ratusan juta dolar.

Namun, apa yang terjadi dan dialami Eropa – meski banyak kalangan masih sangat optimis akan kebangkitan 3G di Eropa – tak sama seperti yang dialami di kawasan Asia. Di Asia, 3G tampaknya mendapat persepsi yang berbeda. Banyak negara dan operator yang mulai menyediakan layanan 3G. Lihat saja, Malaysia yang bulan lalu telah menerapkan 3G melalui Maxis Communications Berhad dan Celcom Berhad. Singapura telah lebih dahulu menerapkannya. Di Singapura, tiga operator 3G (SingTel, MobileOne dan StarHub) kini malah sudah memiliki tak kurang dari 30.000 pelanggan.

Perlombaaan penyediaan layanan 3G, tampaknya lebih pada pengejewantahan WCDMA 3G. Meski, sebenarnya, WCDMA bukan jalur migrasi CDMA ke 3G, begitu juga bukan jalur langsung GSM ke 3G. Banyak kalangan menilai bahwa WCDMA, sesungguhnya tak lebih cepat dibandingkan CDMA 2000-1X EVDO/EVDV, namun sebagian besar operator GSM masih tetap bersikukuh menggunakan jalur WCDMA ini dalam menyediakan layanan 3G.

Di sisi lain, ada sebagian yang mencoba untuk menggabungkan antara GSM dan CDMA dengan menampilkan jaringan berteknologi canggih yang mereka sebut GSM-1x, yang mencangkokkan fasilitas CDMA 2000-1X ke ponsel GSM. Jalur WCDMA ini diperkirakan akan semakin banyak ditempuh, bahkan untuk menuju ke HSDPA yang katanya dapat mentransmisikan data hingga kecepatan 14,4 Mbps. Hanya saja, HSDPA ini dianggap bukan lagi 3G, melainkan sudah 3,5G, atau bahkan 4G.

Di Jepang, NTT DoCoMo dan KDDI, malah menuai sukses, karena keduanya berhasil menggaet lebih dari 30 juta pelanggan 3G, yang kemudian menempatkan Jepang sebagai negara dengan pelanggan 3G terbesar di dunia.

Perlombaan 3G, memang harus berhadapan dengan kemajuan pesat WiMAX. WiMAX, yang dikabarkan menjanjikan keunggulan yang lebih besar dibandingkan 3G, meski dituntut untuk segera membuktikan ‘jati dirinya', namun telah menarik banyak kalangan, mulai dari operator, pemanufaktur perangkat, ISP dan lainnya.

Contohnya, di Korea Selatan, kalangan operator justru mengembangkan WiBro, yang dianggap sebagai turunan dari WiMAX. WiBro diperkirakan akan menjadi sandaran industri masa depan Korea.

Pertarungan antara 3G dan WiMAX masih akan panjang, karena kedua kubu masih harus benar-benar membuktikan keunggulannya, baik ketersediaan jaringan dan layanan, perangkat maupun model bisnis yang handal dan menghasilkan revenue yang tinggi.

The Headline ”eBizzAsia” edisi 28, Juli 2005, menampilkan perkembangan dan persaingan dua kubu besar itu, baik di mancanegara maupun di Indonesia. Di dalam negeri, pergulatannya masih cukup panjang, baik yang terkait dengan regulasi, frekuensi, maupun kesiapan operator dalam menyediakan layanan dan ketersediaan konten yang mendukung. Jalan memang masih panjang, namun pertarungan semakin sengit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar