Minggu, 17 Mei 2009

LAYANAN DATA OPERATOR MASIH ABAL-ABAL


Bukan hanya para pekerja professional, kalangan ABG di Tanah Air kini tengah kegandrungan akses internet. Teruatama setelah makin marak layanan seperti messenger, blog, facebook sampai friendster. Hal ini ditunjang dengan kemudahan akses internet setelah operator seluler menyediakan layanan mobile internet.

Sejak awal tahun lalu, layanan data sudah mulai menjadi medan perang operator seluler, terutama operator yang memiliki layanan akses 3G atau HSDPA. Umumnya para operator ini mengklaim dengan teknologi 3G dan HSDPA ( 3,5 G ) masyarakat bisa menikmati akses data dengan kecepatan tinggi.

Celakanya, apa yang diklaim oleh operator ternyata lebih sebatas promosi belaka. Dalam kenyataan, layanan data operator seluler terbilang baru digeber setengah hati. Ujung-ujungnya adalah konsumen merasa disuguhi produk abal-abal.

Terkait layanan data setengah hati yang diberikan operator, Onno W Purbo, pakar teknologi informasi memaparkan, jika mengacu pada logika investor, mereka memang tidak berani mengambil resiko tinggi. Menurut Onno mereka hendak mengambil untung namun berusaha melakukan investasi seminimal mungkin.

Apalagi, lanjut Onno, operator seluler sudah kepalang melakukan investasi dengan kucuran dana terlampau mahal di 3G. Sementara di sisi lain teknologi yang lebih murah dan lebih cepat akan dating sebentar lagi.

“Sekarang sudah terlambat, mesti maklum karena investasi 3G per BTS dengan biaya mencapai milyaran rupiah. Kalau saja dulu pemerintah mau memakai Wimax, harga BTS-nya jauh lebih murah dengan harga 6 ribu dolar AS atau ssekitar 60 juta (kurs 10.000). Harga tersebut jauh lebih murah, “ paparnya.

Tak heran, alih-alih menikmati layanan internet yang nyaman, justru sebagian pelanggan terpaksa berhadapan dengan akses internet lelet dan kerap putus nyambung. Puncaknya ketika layanan broadband internet IM2 dari indosat yang kedodoran menyokong trafik data karena jumlah pelanggannya sudah tak sepadan dengan kapasitas yang tersedia.

Kualitas merosot

Lebih jauh, tranpa dukungan kualitas dan infrastruktur jaringan memadai untuk menopang layanan internet, akhirnya pelanggan kembali menelan pil pahit. Coba saja tengok, setelah terjadi penurunan kualitas, barulah operator mengambil ancang-ancang memperbaiki dan menyempurnakan layanannya. Pihak indosat misanya baru mengungkapkan rencana menambah sekitar 1.000 unit node B (radio pemancar generasi ke tiga/3G). Padahal seiring dengan peningkatan trafik layanan data dari pelanggannya, kapasitas yang dimiliki indosat sudah kepalang kedodoran.

Menurut Direktur Marketing Indosat, Guntur S. Siboro, di Jakarta, beberapa waktu lalu, Indosat berencana node B ditambah sekitar 1.000 unit, dari saat ini sebanyak 1.500 unti node B. Termasuk peningkatan kapasitas serving GPRS support node (SGSN), dan gateway GPRS support node (GGSN) yaitu perangkat pengontrol dan penyalur lalu lintas data.

Penambahan tersebut, lanjutnya, terkait dengan lonjakan trafik seluruh layanan data indosat seperti pelanggan ritel, layanan GPRS, layanan internet pita lebar (internet broadband) yang mencapai 101 terra byte per pekan. Apalagi sebagian pelanggan memilih layanan akses tanpa batas (unlimited).

Guntur sendiri mengakui jika layanan data indosat dalam beberapa bulan terakhir cenderung mengalami penurunan. “ini karena kapasitas frekuensi yang dimiliki untuk melayani trafik data dan suara tidak mencukupi menyusul tingginya pertumbuhan pelanggan.”

Lebih jauh, dari sekitar 1.500 unit node B saat ini sebanyak 80% diantaranya digelar di wilayah Jabodetabek. Jumlah pelanggan pita lebar internet Indosat dikabarkan sudah mencapai sekitar 350.000 pelanggan per Februari 2009.

Terkait penurunan kualitas, Indosat sendiri sampai menjanjikan potongan harga pada tagihan pelanggan yang merasa dirugikan dengan penurunan kualitas layanan data IM2. Pernyataan itu muncul dari pertemuannya dengan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Selain itu, Indosat pun siap membatasi penjualan datacard-nya.

Kondisi penurunan mutu layanan data tersebut seperti memperlihatkan bahwa operator kurang mempersiapkan diri secara matang dalam menjaga kualitasnya. Sehingga muncul kesan operator hanya berusaha mengeruk keuntungan dari bertambahnya pelanggan tanpa mengindahkan kualitas.

Sebenarnya tak hanya Indosat sendirian yang bermasalah dengan layanan datanya. Operator besar lain seperti Telkomsel ataupun XL kerap pula menuai keluhan dari pelanggannya terkait kualitas layanan data.

Namun, merujuk pada banyaknya keluhan terhadap layanan datanya, operator seluler pun berkilah bahwa frekuensi yang terbatas salah satu penyebabnya. Beberapa operator berupaya meminta tambahan frekuensi kepada pemerintah supaya layanan datanya optimal.

Misalnya Direktur Utama Indosat Johny Swandy Sjam yang mengaku telah melakukan upaya untuk menambah frekuensi jaringan sebesar 5 MHz. Indosat, lanjutnya, sudah mengajukan penawaran. (penyewaan frekuensi) kepada pemerintah.

Begitu pula dengan XL yang berupaya meminta tambahan frekuensi sebagai alasan dibalik penurunan layanan data. Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi menuturkan frekuensi yang ada (5Mhz) sudah tidak optimal lagi menunjang layanan data 3G.

Telkomsel pun mengajukan tambahan 5 MHz lagi untuk frekuensi seluler 3G. hal tersebut diungkap Direktur Utama Telkomsel, Sarwoto Atmosutarno.

Saat ini, frekuensi 3G Telkomsel telah digunakan untuk melayani pelanggan mobile broad band Flash 250ribu, Blackberry 45ribu, dan akses data ritel 3G 6,2 juta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar