"Jangan gitu nak. . . nanti mau jadi apa kamu di kemudian hari" begitulah kata seorang ibu yang ku temui seusai pulang kuliah. ibu mana yang tak mau anaknya jadi bintang sukses di masa depan. seketika itu ku ingat keluarga dirumah. namun seketika itu juga ku berusaha tuk mengalihkan ke topik yang lain. Kerinduan terhadap keluarga memang kurasakan dengan frekwensi tak sedikit ketika ku beranjak kuliah dan tinggal di perantauan Jakarta. Sudahlah banyak dosa yang ku perbuat kali ini. Kurasakan dosa yang teramat banyak dan kurasakan pula dosa yang berbeda jika kuperbuat dosa itu terhadap orang yang melahirkanku ke dunia ini. Tak cukup tuk sekedar menyesal kali ini. Hidup bukan tuk menyesali keadaan sebelumnya, namun hidup tuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu.
Hari sabtu. . . kebanyakan orang senang dengan keadaan ini. apalagi jika malam sudah menjelang. "Sunday Night" menjadi hal yang lumrah tuk bercengkrama dengan kekasih atau sekedar teman sejawat. Bukannya aku bosan dengan keadaan yang sedang sendiri (jomblo). Kekasih bukanlah hal yang harus diprioritaskan. Ku nyaman hidup dengan teman baruku di Jakarta. Teman 1 kosan yang tak ada istilah senioritas, yang tak membedakan umur ataupun status. ku nyaman tuk menjalani hidup ini. . .
fuuuuiiii.. . . .hhhh (sambil mengusap keringat). sendiri lagi di malam minggu. memang hari sabtu dan minggu keadaan kosan ku sangat berbeda dengan hari hari yang lain. Memang berkunjung ke sanak saudara bukanlah hal yang salah. hanya diriku penghuni kosan bawah yang selalu stanby ada di kosan. teman yang lainnya pergi meninggalkan begitu saja tanpa ada pesan. seakan semuanya statis dan hanya aku yang berjalan. 2 teman ku pergi ke sanak saudaranya yang tinggal di kawasan Jakarta, 3 teman yang lain pulang ke rumahnya. memang masih ada teman kosan atas yang bisa menemaniku. karakterlah yang menentukan nyaman atau tidaknya. Hanya dawai - dawai gitar yang kini selalu menemaniku. harmonisasi dan resonansi mengiringiku di sunday night ini. . . .
Sabtu, 25 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
